Tempat terbaik untuk mengadu
kemarin Saya menangis terharu ketika seorang sahabat lama menelpon dan menyampaikan kabar bahwa dia akan menikah dengan seorang pria, ya pria itu yang sering menjadi alasannya menangis dan tersenyum. Biasanya ia hanya lebih sering menelpon saya ketika ia butuh teman untuk curhat, menyampaikan rasa bersalahnya, menyampaikan omelan yang tak tersampaikan ke objek yang membuatnya terluka. Tak jarang ia menangis dan terdiam di kejauhan. Saya sangat merasa bersyukur bisa menjadi sahabat yang selalu ada dalam dukanya. skalipun saya sedih tak dapat hadir di hari pernikahannya, Allah menghibur saya lewat saat teduh pagi ini. Ya sekalipun tak bisa hadir langsung disana dengan pesta yang hanya beberapa jam, tapi saya bersyukur sudah menghabiskan banyak waktu yang tidak sia-sia untuk mendengarkan dan mendukungnya dalam setiap doa yang tulus. Hari masih terlalu pagi, dan setelah saat teduh saya melanjutkan belajar untuk persiapan UAS hari ini. Ping…!!! ya, seorang temen ...